English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Google+ Followers

. klinikherbalis.com .-

Sunday, October 5, 2008

SEKILAS TENTANG AL-IKHWAN-UL MUSLIMUN


Jama'ah Al-Ihkwan Al-Muslimun didirikan pada bulan Dzulqa'dah 1347 H bertepatan dengan maret 1928 di kota Ismailiyah, Mesir, setelah ada pertemuan di rumah Hasan bin Ahmad bin Abdurrahman Al-Banna, yang lebih populer dikenal dengan sebutan Hasan Al-Banna. Pertemuan yang dihadiri 6 tokoh generasi awal Ikhwan tersebut sekaligus menyepakati Hasan Al-Banna sebagai Pimpinan di antara mereka. Keenam tokoh tersebut adalah Hafizh Abdul Hamid, Ahmad Al-Khusairi, Fuad Ibrahim, Abdurrahman Hasbullah, Ismail Izz dan Zaki Al-Maghribi.


Hasan Al-Banna, pendiri sekaligus Musyid 'Am pertama Al-Ikhwan Al-Muslimun, lahir di kota Mahmudiyah, sebuah kawasan dekat Iskandariyah, Mesir pada tahun1906. Setelah menyelesaikan kuliah di Darul Ulum, Kairo, beliau menggeluti profesi sebagai guru sekolah dasar. Beliau aktif melakukan dakwah mengajak masyarakat untuk memperjuangkan kalimat Allah, hingga akhirnya terbentuklah jama'ah Al-Ikhwan Al-Muslimun. Gerakan yang bertujuan untuk menegakkan sistem Islam dalam seluruh bidang kehidupan ini dianggap menjadi musuh yang menakutkan oleh penguasa Mesir, juga dianggap telah membahayakan kepentingan imperialisme internasional.

Untuk itulah dirancang sebuah konspirasi untuk membunuh Al-Banna dalam rangka mematikan gerakan Ikhwan yang kian meluas dan diterima bukan saja masyarakat Mesir, tapi juga negara-negara lain di luar Mesir. Di tengah hiruk pikuk kota Kairo, di depan kantor pusat organisasi Asy-Syubban Al-Muslimun, sekelompok orang yang amat terlatih menembakkan peluru ke arah Al-Banna, dan akhirnya beliau wafat sebagai syahid pada 12 Februari 1948.

Gerakan dakwah Al-Ikhwan sebenarnya merupakan kristalisasi dan arus pemikiran pembaharuan yang telah dicanangkan oleh beberapa tokoh pembaruan sebelumnya. Awalnya setelah gerakan Wahhabiyah, yang membawa Islam ke masa salaf. Gerakan ini terinspirasi oleh pemikiran tauhid Ibnu Taimiyah.

Setelah meredupnya pengaruh Wahhabiyah, Jamaluddin Al-Afghani, yang menyodorkan gagasan perjuangan melawan pihak asing. Tujuan adalah memperkuat pilar-pilar sistem hukum Islam, memberantas paham materialisme, melawan pihak asing, dan menganjurkan ajaran Al-Qur'an kepada masyarakat.

Setelah itu mncullah gerakan yang dipelopori murid beliau yang bernama Muhammad Abduh. Ia mengibarkan bendera perjuangan melalui pendidikan. Ia berprinsip bahwa seluruh perbaikan berawal dari perbaikan individu, maka ia mengubah haluan perjuangan di sektor politik ke sektor pendidikan. Meskipun gerakan ini berhasil menghapuskan kejumudan berfikir, akan tetapi obsesi kebangkitan Islam belum mendapatkan respon masyarakat secara menyeluruh.

Pada saat itu lahir gagasan yang diusung Hasan Al-Banna, dengan cita-cita menegakkan nilai-nilai Islam yang syamil, kamil dan mutakamil. Gerakan yang bertumpu pada proses tarbiyah ini secara gegap gempita direspon oleh masyarakat Mesir, khususnya para pemuda. Sosok kepribadian Hasan Al-Banna yang demikian kharismatik dan akomodatif terhadap beragam madzhab dalam Islam, menjadikan gerakan ini cepat menjadi fenomena.

Dari waktu ke waktu, gerakan Al-Ikhwan semakin mendapatkan tempat di berbagai negara, baik dari segi pemikran maupun struktur. Ini menunjukkan sejumlah keberhasilan yang telah diraihnya. Mengenai faktor yang mempengaruhi keberhasilan gerakan Al-Ikhwan, DR. Yusuf Qardhawi menyebutkan adanya tujuh unsur berikut:

1. Ia megisi kekosongan gagasan yang kehadirannya dibutuhkan.

2. memiliki keistimewaan, keprbadian yang jelas dan memiliki sifat-sifat yang konkret.

3. Memiliki pemimpin yang kharismatik, arif dan bjaksana, berwawasan luas, sekaligus jelas metodenya.

4. Memiliki pendukung yang setia dan komitmen yang tinggi.

5. Tujuan yang hendak dicapai jelas dan tidak tergoyahkan oleh situasi dan beragam rintangan.

6. Cara-cara untuk mencapai tujuan juga jelas, diketahui tahapan-tahapan dan langkah-langkahnya.

7. Mempunyai sikap yang jelas terhadap isu-isu besar.

Dengan tujuh unsur pokok tersebut, Ikhwan mampu menjadi arus sejarah pergerakan Islam dunia. Al-Ikhwan memang sebuah fenomena. Ia adalah semangat yang menyala, ia juga inspirasi yang tak ada habisnya. Ia senantiasa dipelajari, dikaji, dicintai dan diikuti


---------------------

Salah satu sentral perhatian Ikhwan di Mesir adalah pembinaan terhadap generasi muda. Hassan Al-Banna amat menekankan pentingnya sektor ini. Kepada penguasa, tanpa lelah Hassan Al-Banna menyerukan agar kurikulum di sekolah-sekolah Mesir direkonstruksi kembali, terutama dalam materi keagamaan, moral, dan juga sejarah Dunia Islam. Albana juga menegaskan jika mteri pengajaran di sekolah-sekolah haruslah dibersihkan dari paham materialistik.

Walau Presiden Mesir yang berkuasa saat itu adalah Jenderal Gamal Abdul Nasser, yang dikatakan pernah mengenyam tarbiyah Al-Ikhwan, namun setelah peristiwa percobaan pembunuhan terhadapnya yang terjadi pada Desember 1954 menyebabkan penguasa Mesir menuding Al-Ikhwan di balik upaya jahat ini. Ikhwan tenu saja berkali-kali menolak fitnah keji tersebut. Akibatnya ribuan anggota Ikhwan ditangkap dan dijebloskan ke dalam dipenjara lengkap dengan aneka siksaannya yang berat. Enam aktivis Ikhwan digantung.

Fitnah besar terhadap Ikhwan terus berlangsung sampai pada tahun 1960-an. Presiden Nasser bahkan membentuk satu komite Khusus untuk membubarkan Ikhwan dari Mesir. Penangkapan dan penggantungan aktivis Ikhwan tetap berlanjut. Hassan Al-Banna menemui syahid dalam suatu rekayasa pembunuhan oleh musuh-musuh Allah. Pada 29 Agustus 1966 tiga orang tokoh Ikhwan dihukum mati, antara lain Sayyid Quthb.

Tarbiyah di dalam kelompok Ikhwan mewajibkan binaannya menghafap Qur’an secara kontinyu, mempelajari dan juga menghafal hadits-hadits shahih. Jika binaannya demikian, apatah lagi para murabbinya. Selain teori, para Ikhwan juga membumikan ilmu yang diperoleh dengan aktivitas yang nyata seperti sungguh-sunguh menjalankan ukhuwah Islamiyah, memberikan bantuan sosial, membuka sekolah-sekolah dan klinik kesehatan yang murah dan terjangkau oleh rakyat Mesir yang masih banyak yang miskin, dan sebagainya.

Para tokoh Ikhwan bersungguh-sungguh menerapkan Islam di dalam kehidupan kesehariannya. Mereka berupaya dengan keras agar bisa meneladani kehidupan Rasululah SAW yang penuh dengan kesederhanaan, lembut terhadap sesama, dan keras terhadap siapa pun yang henak merusak agama Allah ini.

Mereka hanya mau hidup dalam keberkahan yang berasal dari sesuatu yang jelas-jelas halal dan menjauhkan segala hal yang syubhat, dan sama sekali tidak berkompromi dengan yang haram. Dakwah Islam tidak bisa dibangun dengan sesuatu yang syubhat, apalagi yang jelas-jelas haram. Yang bersih tentu tidak bisa dibangun dengan bahan-bahan yang kotor.

Hasan Albana telah menegaksan jika dakwah Ikhwan ini wajib mendapat dukungan yang kuat dari masyarakat. Sebab itu, seluruh aktivis Ikhwan, baik yang berada di lapisan atas maupun bawah, diwajibkan hidup bermasyarakat dan menjadi cahaya di tempat tinggalnya masing-masing.

Saah satu ciri paling menonjol dalam Harakah Ikhwan adalah penekanannya pada jihad. Jihad di sini bukan hanya sebatas jihad melawan hawa nafsu, tetapi jihad qital. Sebab itu secara terprogram, para aktivis—baik yang berada di lapisan atas, maupun bawah—sering mengadakan perkemahan dan latihan fisik. Jadi, latihan fisik tidak hanya menjadi kewajiban para binaan, tetapi juga diikuti oleh lapisan atas, para ustad dan qiyadahnya. Ini disebabkan kedudukan jihad yang sangat mulia di dalam Islam, sehingga para ustadz dan qiyadah yang sudah berumur pun dengan semangat tetap mengikuti pelatihan fisik seperti halnya yang masih muda-muda.

Hasan Al-Banna berkata kepada seluruh negeri-negeri Islam, “Kami mengajak kalian pada Islam, ajaran Islam, undang-undang Islam dan petunjuk Islam dengan jelas dan terang. Kalau ini kalian anggap politik, maka inilah politik yang kami perjuangkan yaitu politik Islam.”

Di masa kekuasaan Raja Faruk, Albana melihat tiada satu pun partai politik yang benar-benar ingin melaksanakan dan menerapkan undang-undang Islam secara kafah dan syumuliyah. Sebab itu, Albana mendesak penguasa agar membubarkan semua partai politik yang ada karena dianggap tidak ada manfaatnya bagi tegaknya syariat Islam di Mesir. Dakwah Ikhwan ini sungguh-sungguh tegas dan jelas dalam menyeru semua pihak kepada Islam. Islam adalah Islam dan Thagut adalah Thagut. Jelas perbedaannya. Thagut wajib ditumbangkan dan tidak sekali pun Ikhwan di Mesir menyebutkan Thagut sebagai final atau sesuatu yang tidak bisa lagi diubah, atau malu-malu menyatakan diri sebagai pihak yang akan menjalankan syariat Islam dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

Selain jihad fisik dan fikrah, Ikhwan juga memberi perhatian lebih kepada dakwah lewat media massa. Ikhwan di Mesir menerbutkan media massa dalam berbagai bentuk, dari yang harian hingga bulanan. Seluruh penerbitan Ikhwan ini sangat digemari rakyat Mesir karena sikapnya yang jelas terhadap Islam sebagai al-haq.

Dakwah Ihkwan di Mesir meluas hingga ke berbagai negara dan benua. Dengan tegas Albana berkata: “Kita tidak akan berdiam diri dan merasa senang atau berhenti selagi Qur’an belum benar-benar menjadi perlembagaan negara. Kita akan hidup untuk mencapai tujuan ini atau mati karenanya” Al-Qur’an adalah undang-undang dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam hal bernegara. Tidak pernah sekali pun prinsip-prinsip Islam dikorbankan demi menggapai suatu hal yang bersifat duniawi, entah di sini. (Sumber : Eramuslim)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

. Kelana .. Kuliner .

HOTLINE:(021)9346.1965

BUKAN KELANA KULINER ---- jelas bukan kuliner biasa ----

Bakmi Hejo - 0813 2248 2220

Our World

Loading...

-. KULINER-KULINER .-. Informasi kuliner pilihan Sidik Rizal .